Cerita Jamilah Gadis Pasar Malam


Pemilik tempat hiburan malam satu-satunya asal kampung Duren yang murah meriah itu datang menghampiri Surtawi. Baik Pak Jarwo dan Besannya itu hendak bernegosiasi mengenai penyewaan lapangannya di pinggir kota. Sekalian hendak memperkenalkan keluarganya.

Di rumah, keduanya sibuk memujinya. Seorang pengusaha sukses asal kampung Duren yang tidak melupakan jasa Kepala Desanya dalam mengurus birokrasinya sewaktu kecil. Surtawi juga masih muda. Berusia kepala dua dengan status jomblo. Ketika pemilik pasar malam itu hendak memuji lokasi tanahnya yang hendak dipakai untuk kepentingan bisnis, Surtawi menyela.

“Maaf Pak, kita bisa langsung membicarakan kontrak sewa tanahnya?” Surtawi tidak mau menghabiskan waktu berbasa-basi.
Orang itu menelan ludah pahit. Tadinya ia mengira Surtawi adalah seorang pemuda yang sesuai dengan seleranya. Ia sudah menyusun rencana untuk menyanjung Surtawi. Tapi kelihatannya pemuda ini tidak mau sedikit mendengarkan bumbu ceritanya.

Surtawi bangkit setelah menandatangi kesepakatan pemakaian lahannya. Ia menunjuk seolah-olah waktu berkunjung sudah habis. Ia berlagak melihat jam tangannya. Kedatangan keduanya telah menghabiskan waktu berharganya untuk mempersiapkan laporan bulanan besok.
Pak Jarwo justru sibuk menerima panggilan dari bawahannya. Ia memberikan gestur yang betah duduk di kursi tamu Surtawi. Perbincangan ketiganya justru dialihkan kepada seseorang yang telah berada di bibir pintu.

“Jamilah, silahkan masuk!” pinta pemilik pasar malam itu tanpa meminta restu dari Surtawi.
Gadis itu masuk dengan muka di tekuk ke bawah. Ia terlihat begitu mempesona. Garis – garis di wajahnya mencuat ketika tersenyum ke arah Surtawi. Giginya tampak begitu rapi walaupun tanpa perawatan. Rambutnya sebahu tertata rapi oleh bando kuning. Pakaiannya sederhana, tidak menor. Tingkah lakunya sopan dengan menjulurkan tangan kearah pemilik rumah.

Setelah beberapa kali Surtawi memperhatikannya, gadis itu tampak malu. Ia terpesona akan kemolekannya. Untuk merasakan mulus kulitnya, ia menjabat tangannya begitu lama. Sampai ia lupa kalau pemilik pasar malam itu berdehem kurang senang.

Sejak putus dengan pacarnya beberapa bulan lalu, Surtawi lebih senang menghabiskan waktunya untuk bekerja dalam suasana kantor. Ia sudah terbiasa dalam tekanan pekerjaan. Sensasi itu seolah menenggelamkannya dalam dunia yang membosankan dan terkotak. Ia sudah lupa bagaimana caranya mendekatkan diri dengan lawan jenisnya.

Pagi hari ketika alarm berbunyi, Surtawi bangun setengah rela. Ia bangkit dan memeriksa jarum jam yang mengelilingi alarm di atas meja kerjanya. Seketika itu matanya terbelalak. Ia belum menyiapkan bahan presentasinya. Ini adalah tanggung jawabnya sebagai anggota divisi pemasaran.

Surtawi tidak sempat mandi. Ia bahkan tidak menyetrika sepasang kemejanya yang mulai menguning. Dari tadi ia siap menghapalkan materi yang ditonjolkan atas prestasinya. Ia akan presentasi maksimal seperti biasa. Dan ketika ia sudah bersiap menuju garasi luar mobilnya, ia menangkap sesosok wanita sedang berdiri di depan pagar rumahnya. Wanita itu tampak mondar-mandir gelisah. Terkadang ia seperti berbicara sendiri.

“Anda sedang apa, ya?” tanya Surtawi mengagetkan wanita itu.
Gesturnya menandakan ketidak-siapan. “Maaf, mas, aku putri Bapak Mulyono.”
Surtawi nyaris lupa dengan sosok wanita yang merebut perhatiannya itu. Ternyata wanita yang kemarin itu adalah putri dari pemilik pasar malam. Ia langsung membukakan pintu pagar menyuruh masuk. “Maaf, sebelumnya, saya buru-buru harus ke kantor, ada rapat penting.”
“Lha, bukannya hari ini Minggu, mas?” sahutnya polos.

Surtawi melihat jam tangannya. “Astaga, ini berarti besok!” teriaknya menepuk jidat.
“Mas, jangan marah loh, itu,” gadis itu menunjuk ke daerah terlarang Surtawi sambil sedikit membuang muka.

Surtawi merasakan pahanya dingin dihembus angin pagi. Ia langsung berbalik menuju kamar dan memakai celana panjangnya. “Maaf, yang tadi lupakan saja!” ketusnya malu.
“Begini lho mas, Jamilah hendak memberikan uang sewa dari Abi,” katanya sambil mengeluarkan beberapa tumpuk uang sepuluh ribuan.

“Hanya itu saja?” tanya Surtawi penasaran. Ia ingin menahan Jamilah lebih lama lagi.
Jamilah mengangguk mengarahkan pandangannya ke bawah.
“Jamilah, jangan marah ya, Jamilah sudah punya pacar?” tanya Surtawi hati-hati.
Jamilah tidak menjawab. Ia sibuk memainkan jarinya. Tapi kali ini ia memberanikan diri menatap mata Surtawi. “Jamilah izin pamit dulu, mas!” ketusnya bangkit.

Surtawi tidak bisa berbuat banyak. Ia memandangi kepergian Jamilah dari luar teras. Jamilah sudah ditunggu oleh seorang lelaki bertato berperawakan bengal di depan pagar rumahnya. Jamilah melambaikan tangan kearahnya setelah itu cabut menghilang dari pandangannya.
“Dia Siapa?”

“Jenggot Fir’aun! Kamu muncul kayak jelangkung saja!” Surtawi belingsatan melihat Yudin tiba-tiba duduk di bangku rotan teras rumahnya.
“Manis juga,” ujarnya mendaratkan tinjunya kearah pundak kiri Surtawi. Ia tertarik karena sahabatnya itu kini sudah mulai memikirkan yang namanya wanita. Sebelumnya ia sering memberikan petuah cinta kepada Surtawi, tapi sepertinya ia masih trauma dengan kegagalan cintanya di masa lalu.
Yudin masih teringat tatkala Surtawi galau. Ketika itu ia masih lajang dan hendak melamar Sunarsih, istrinya. Anindia, mantan Surtawi tidak pernah menjelaskan alasannya untuk meminta putus. Ia datang bersama adik laki-lakinya dan mengakhiri hubungan dalam semenit. Cinta keduanya kandas di tengah jalan sebelum Surtawi mengusulkan pertunangan mereka.
“Teman-teman ingin mengajak kamu untuk keluar nanti malam!”
“Saya ogah clubbing,”

“Siapa yang mengajak ke diskotik? Kita ke luar kota!”
Surtawi langsung semangat 45. Divisi pemasaran memang sudah lama tidak keluar kota. Mungkin atasannya ingin memberikan liburan kepada bawahannya. Tapi ia langsung mengingat sesuatu. “Laporan akhir masih belum siap.”

“Kamu pikun, ya!” Yudin mengetuk jidatnya. “Minggu depan kamu sudah pindah kantor.”
Yudin lalu menyerahkan surat pengangkatan Surtawi. Ia mengira kalau Surtawi sudah mengetahui mengenai promosi yang dilakukan oleh Bu Giovani terhadap pimpinan perusahaan. Sekarang ia sudah terbebas dari tanggung jawab laporan yang sering membuatnya pusing tujuh keliling.
Surtawi merasa tenang. Posisinya di perusahaan semakin meyakinkan. Tapi ini semua berkat kerja keras dan kepercayaan penuh yang diberikan oleh Bu Giovani kepadanya.

Ketika Minggu pagi mulai berakhir menjelang siang, keduanya menghabiskan waktu bersantai di rumah. Kebetulan Yudin membawa konsol game terbaru yang ia beli dari Amerika sewaktu dirinya magang seminggu yang lalu. Perusahaan memang menfokuskan pelatihan karyawannya agar lebih kompeten dan produktif.

Dan matahari perlahan meredup seiring perputaran jarum jam. Suasana sunset yang indah di ufuk barat tidak digubris oleh keduanya yang sibuk bermain game bergenre RPG. Sekumpulan burung gereja berterbangan pulang ke sarangnya. Menandakan waktu beraktifitas berakhir dan dilanjutkan waktu beristirahat yang tentram.

***

Dan disinilah sekawanan orang kantoran yang ingin berlibur ke luar kota itu berada. Pemandangannya cukup menyesakkan. Sebagian mereka masih memakai jas dan dasi ala pekerja keras yang berkutat akan deadline. Sebagian lagi memakai piyama yang disanding dengan sandal jepit ala kadarnya.

Kerlipan lampu neon sangat mentereng. Berbagai jenis manusia berada di tempat ini. Tua-muda, jelek-cakep, hitam-langsat, tinggi-pendek, kurus-tambun, sampai kepada aroma parfum disemuti bau amis ketiak. Ini adalah tempat hiburan sejuta umat. Berisik dialuni musik dangdut koplo. Suasananya tidak jauh berbeda dengan diskotik kota yang dipenuhi kalangan sosialita.

Surtawi tersenyum sinis. Ia harus berterimakasih kepada Yudin yang telah mempermainkannya. Sebelumnya ia tidak tahu kalau rekan-rekannya telah berada di rumah menjelang malam.
“Terkadang hiburan rakyat menyenangkan juga!” seru Bu Giovani sedikit menggoyangkan pinggulnya mendengar alunan dangdut koplo.

“Kita disini kan untuk merayakan manajer pemasaran yang baru!” timpal Yudin memainkan alisnya.
Surtawi sedikit mual dengan akumulasi bau badan orang-orang disekitar. Ia seperti mabuk darat tanpa kendaraan. Perutnya berputar-putar. Ia mencari sesuatu yang bisa menenangkan kondisinya. Tanpa disadari seseorang menepuknya dari belakang.
“Mas, emut ini!” tawarnya memberikan permen jahe.

“Terimakasih,” ucap Surtawi tersenyum melihat wanita itu. Kini mualnya sedikit berkurang. “Jamilah kok bisa disini?”
“Saya bekerja sebagai MC disini, mas!”
“Pantesan!” ketus Surtawi sedikit menyangka. Tadi barusan ia seperti terkenang suara yang tidak asing di telinganya. Hatinya begitu kepincut. Ini yang dinamakan pucuk dicinta ulam pun tiba. Tapi ia masih takut begitu Jamilah berada didekatnya. Kini ia mengikutinya sampai di bawah panggung papan tempat Jamilah beraksi.
Kerumunan remaja labil mengambil posisi persis di depan panggung. Setelah mengetahui acara puncak akan berlangsung, biasanya pasar malam akan menyediakan penyanyi fantastis dan sensual untuk menarik pengunjung. Seperti semut yang mengelilingi gula aren. Beberapa terusik dengan orang-orang bertato yang menyerobot barisan. Sepertinya mereka adalah bandit kampung yang doyan mabuk oplosan dan tempat nongkrongnya adalah pasar malam.

Para penonton banyak yang tidak berani memprotes. Atau ada yang malah menjauh dan tidak ikut-ikutan. Suasana berubah mencekam.
Surtawi nekat berada dibarisan depan. Ia mencium aroma alkohol yang menyengat. Setelah Jamilah membuka acaranya, satu berbadan kekar dan kumisan maju dengan sedikit teler.
“Apa-apaan, ini mas?”

Tangan lelaki itu mulai mengarah ke pinggul Jamilah. Ia sedikit menarik tubuhnya mendekat, sambil memainkan mata ke arah teman-temannya. Ia terlihat sadar dan berlagak layaknya bandit. Tangannya merampas microphone dari tangan Jamilah. Ia beraksi mengeluarkan scream sambil sesekali menjentik lengan Jamilah nakal.
“Kita disini have..”

“Paakk!” sebuah jap kanan mendarat tepat di pipinya yang penuh lubang bekas jerawat. Ia terhuyung kebelakang mengenai perangkat sound system. Tubuhnya langsung melawan dan maju mengeluarkan tendangan ke arah perut Surtawi.
“Pruuk!” Surtawi tidak sempat menghindar. Ia memegangi perutnya kesakitan. Tapi langsung ia mengeluarkan kuda-kuda menyerang balik. Ia pernah menyandang sabuk biru dari perguruan silat Haji Asep. Pukulannya kali ini meleset dan mengenai tiang panggung.
Bandit itu bersiap lagi untuk menyikut dari belakang. Seketika refleks Surtawi membelok pinggulnya dan melakukan uppercut membalik. Pukulannya tepat mengenai dagu bandit itu. Tidak mau berkompromi, Surtawi melayangkan tendangan tumit dan mengunci pergerakannya dengan tehnik gulat khusus. Sekarang mereka seperti pemain WWF nyasar di pasar malam.

Orang-orang yang terpaku, spontan menyeru bertepuk tangan. Abg labil yang sejak tadi memperhatikan adegan heroik itu takjub. Kawanan bandit itu pun terlihat melesu. Satu-persatu melarikan diri. Tersisa si bengal yang tidak bisa kabur karena masih meringis kesakitan.
Surtawi merangkul Jamilah yang masih syok. “Sekarang kamu aman!” ucapnya.

“Oke, saudara-saudara! Kita telah menyaksikan aksi superhero yang berusaha menyelamatkan kekasihnya!” seorang Yudin tengah mengisi kekosongan acara panggung. Ia dengan sekonyong-konyong menyerobot keramaian dan naik panggung.

Surtawi mengerutkan dahinya. Ia memainkan isyarat malu. Tapi dasar Yudin yang hendak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ia memainkan mata ke arah Bu Giovani yang dari tadi juga ikut memberikan restu.
“Disini, saya ingin menyampaikan sesuatu,” Yudin mencuri pandang ke arah Surtawi. “Surtawi, hendak menyatakan sesuatu kepada Jamilah di panggung terhormat ini.”
“Sialan!” gumam Surtawi.
Barisan abg labil yang terlanjur takjub dengan Surtawi kini sibuk memberikan yel-yel. Surtawi malu-malu kucing. Ia maju selangkah dan mencuri perhatian semuanya. Lidahnya masih kaku. Mulutnya kering.
“Tes, tes,” Surtawi mengambil nafas. “Jamilah,”
“Iyah, mas,” jawab Jamilah tersipu malu.
“Aduh, kita pulang aja ya!”
“Huuu!” penonton kecewa.
Yudin menyubit. “Aku, mencintaimu...”
“Kurang keras,” Yudin berteriak.
“Jamilah, nama saya Surtawi dan saya mencintaimu!”
“Plok-plok-plok!” tepuk tangan riuh menyelimuti pasar malam yang penuh romantisme itu.
“Jawabannya?” bisik Surtawi berharap besar.
Jamilah langsung memeluk Surtawi. Mimiknya berubah girang. “Terimakasih Mas,” sahutnya.
“Cinta memang membutakan segalanya,” bisik Bu Giovani kepada Yudin. Yudin hanya terkekeh-kekeh.
Surtawi memajukan bibirnya. Ia mulai nekat mendekat kearah dahi Jamilah. Semakin mendekat dan monyongnya pun bertabrakan dengan telapak tangan kasar. Mulutnya beradu dengan batu akik yang keras. Kedatangan orang nomor satu di pasar malam itu menggegerkan. Ia berdehem. Surtawi yang malang.

0 Response to "Cerita Jamilah Gadis Pasar Malam"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel